Sejumlah kisah tentang ulama yang dimakamkan di daerah ini menandakan Islam telah berkembang pada awal berdirinya Mataram Islam.
Salah satu jejak yg sering atau tidak asing lagi saat ini adalah bukit yang terletak tak jauh di atas bukit berketinggian 400 meter diatas permukaan laut itu, terdapat makam Pangeran Singasari atau dikenal dengan Kiai Raden Santri, seorang ulama yang hingga kini makamnya ramai didatangi peziarah.
Berlokasi di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Sesuai kondisi bukit tersebut ditumbuhi banyak bambu , dalam bahasa jawa berarti "pring" .
peziarah harus melewati deretan anak tangga kurang lebih setengah kilometer untuk mencapai makam Kiai Raden Santri. Di kanan-kiri tangga, banyak kios yang menjajakan aneka makanan, pakaian, buku doa hingga perlengkapan ibadah.
Kyai Raden Santri yang memiliki nama asli Kanjeng Gusti Pangeran Singasari ini adalah Ulama yang menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung merbabu , Sumbing , Merapi dan sekitarnya.
Diceritakan Kyai Raden Santri sering menyepi untuk mujahadah di bukit Gunungpring. Saat pulang dari Bukit Gunungpring ke dusun Santren di perjalanan melewati sungai terjadi banjir yang sangat besar. Kemudian Mbah Raden Santri berkata, “Air berhentilah kamu, aku akan lewat.” Maka banjir itu berhenti dan mengeras hingga menjadi batu –batu yang cadas dan menonjol. Sampai sekarang dusun tersebut dikenal dengan nama Watu Congol (batu yang menonjol) yang masih berada di Muntilan, dekat dusung Gunungpring.
Makam Mbah Raden Santri berada disebuah bukit Gunungpring. Selain Mbah Raden juga terdapat wali dan ulama yang juga dimakamkan di sana. Seperti Kyai H. Dalhar, Kyai Krapyak III, Kyai Jogorekso, dll.